Pornografi adalah penggambaran tubuh manusia atau perilaku seksualitas manusia secara terbuka (eksplisit) dengan tujuan membangkitkan berahi (gairah seksual). Pornografi berbeda dari erotika. Dapat dikatakan, pornografi adalah bentuk ekstrem/vulgar dari erotika. Erotika sendiri adalah penjabaran fisik dari konsep-konsep erotisme. Kalangan industri pornografi kerap kali menggunakan istilah erotika dengan motif eufemisme namun mengakibatkan kekacauan pemahaman di kalangan masyarakat umum.
Pornografi dapat menggunakan berbagai media —
teks tertulis maupun lisan, foto-foto, ukiran, gambar, gambar bergerak (termasuk animasi),
dan suara
seperti misalnya suara orang yang bernapas tersengal-sengal. Film porno
menggabungkan gambar
yang bergerak, teks erotik yang diucapkan dan/atau suara-suara erotik lainnya,
sementara majalah
seringkali menggabungkan foto dan teks tertulis. Novel dan cerita pendek
menyajikan teks tertulis, kadang-kadang dengan ilustrasi. Suatu pertunjukan hidup pun
dapat disebut porno.
Sejarah Pornografi dari jaman Purba hingga
sekarang - Pornografi sering digambarkan sebagai penyakit masyarakat masa kini,
sebuah bukti dari kemerosotan moral di era modern. Namun, keberadaan pornografi
telah ada sebelum ada teknologi berupa video maupun foto. Para peneliti
berpendapat, proses evolusi memang membuat kecenderungan manusia pada
rangsangan visual. Bagaimanapun pemetaan sejarah tentang keberagaman materi
pornografi secara historis menunjukkan bahwa manusia akan selalu tertarik pada
gambaran seksual. "Seks memainkan peran super-penting dalam kehidupan
manusia dan pola relasi mereka," kata Seth Prosterman, ahli seksologi
klinis dari San Francisco, seperti dimuat situs LiveScience."Apapun yang
terkait atau dilakukan manusia soal seks selalu menimbulkan rasa ingin tahu dan
ketertarikan." Representasi erotisme yang kali pertama dikenal manusia --
meski mungkin tidak porno -- ada sejak 30.000 tahun lalu. Pornografi mempunyai
sejarah yang panjang. Karya seni yang secara seksual bersifat sugestif dan
eksplisit sama tuanya dengan karya seni yang menampilkan gambar-gambar yang
lainnya. Foto-foto yang eksplisit muncul tak lama setelah ditemukannya
fotografi. Karya-karya film yang paling tuapun sudah menampilkan gambar-gambar
telanjang maupun gambaran lainnya yang secara seksual bersifat eksplisit.
Manusia telanjang dan aktivitas-aktivitas seksual
ditampilkan dalam sejumlah karya seni paleolitik
(mis. patung Venus), namun tidak
jelas apakah tujuannya adalah membangkitkan rangsangan seksual. Sebaliknya,
gambar-gambar itu mungkin mempunyai makna spiritual. Ada sejumlah lukisan porno
di tembok-tembok reruntuhan bangunan Romawi
di Pompeii.
Salah satu contoh yang menonjol adalah gambar tentang sebuah bordil yang
mengiklankan berbagai pelayanan seksual di dinding di atas masing-masing pintu.
Di Pompeii orang pun dapat menjumpai gambaran zakar dan buah zakar yang ditoreh
di sisi jalan, menunjukkan jalan ke wilayah pelacuran
dan hiburan, untuk menunjukkan jalan kepada para pengunjung (lihat Seni erotik di Pompeii).
Para arkeolog di Jerman
melaporkan pada April 2005 bahwa mereka telah menemukan apa yang mereka yakini
sebagai sebuah gambaran tentang adegan porno yang berusia 7.200 tahun yang
melukiskan seorang laki-laki yang sedang membungkuk di atas seorang perempuan
dalam cara yang memberikan kesan suatu hubungan seksual. Gambaran laki-laki itu
diberi nama Adonis
von Zschernitz.
Di masa Paleolitikum, manusia memahat ukiran buah dada besar atau perempuan hamil dari kayu atau batu. Awal Mula dan Sejarah Pornografi Dari Jaman Purba Hinga Sekarang. Para arkeolog meragukan itu adalah 'figur Venus' yang berkaitan dengan seksualitas. Diduga kuat, pahatan itu adalah ikon religius atau simbol kesuburan. Kemudian, pada masa Yunani dan Romawi kuno, sudah ada patung-patung bertema homoseksualitas, juga termasuk patung-patung yang menaggambarkan hubungan seksual tak wajar. Di India, pada abad ke-2 terbitlah buku panduan tentang hubungan seksual yang tetap tenar hingga saat ini, Kama Sutra. Sementara masyarakat kuno Perum Moche, menorehkan imej seksual dalam kerajinan keramik. Beda lagi dengan kaum aristokrat Jepang di abad ke-16. Mereka biasa membaca bacaan erotis yang ditulis di lembaran kayu tipis. Di dunia Barat masa lalu, beberapa material erotis lebih bersifat politis, dari pada pornografi. Demikian menurut Joseph Slade, profesor di Ohio University.
Di masa revolusi Perancis, kerap dijumpai satir menyindir para aristokrat dengan pamflet seksual. "Lebih mengarah pada caci maki politis yang dikamuflasekan menjadi pornografi," kata Slade. Kelahiran pornografi Gagasan porno mulai menyebar pada tahun 1800-an. Namun, Penerbitan novel erotis justru lebih cepat, pada pertengahan 1600-an di Prancis. Sementara, novel porno berbahasa Inggris pertama diketahui berjudul "Memoirs of a Woman of Pleasure" dipublikasikan pada 1748. Teknologi menjadi pendorong pornografi. Pada 1839, Louis Daguerre menemukan daguerreotype -- versi primitif dari fotografi. Media ini juga dimanfaatkan untuk pornografi. Karya 'jorok' pertama daguerreotype yang selamat dari jamannya bertahun 1846. Pornografi kemudian memanfaatkan teknologi video. Pada 1896, para pembuat film di Prancis membuat klip bisu erotis berjudul "Le Coucher de la Marie." Sementara versi pornografi yang lebih keras 'hard core' mulai ada setelah tahun 1900. "Versi itu biasanya dipertunjukkan dalam pertemuan laki-laki," kata Slade. Dalam waktu yang lama, konten dalam film porno relatif stagnan, baik dalam isi maupun kualitas. Perubahan terjadi pada tahun 1970-an -- saat kultur masyarakat mulai membuka ruang untuk film-film yang lebih 'eksplisit'. Internet dan penemuan kamera digital membuat pornografi makin merajalela. Makin mudah untuk membuat film atau klip porno. Dan banyak situs web yang ditujukan khusus untuk para pembuat film porno non-profesional alias amatiran.
Pada tahun 2007, menurut editor senior Adult
Video News, Mark Kernes, penjualan ritel pornografi mencapai US$ 6 miliar per
tahun. Namun, angka itu banyak diperdebatkan. Sebab, angka itu belum menghitung
video amatir yang diunggah ke internet. Terlepas dari berapa banyak uang yang
dihasilkan, pornografi memang menarik. Sebuah studi yang dilakukan di AS pada
2008, dengan responden 813 mahasiswa, menunjukkan 87 persen pria dan 31 persen
wanita adalah pengguna pornografi. Penelitian ini dipublikasikan dalam Journal
of Adolescent Research. Dampak pornografi Apa akibat pornografi pada kita? Ini
pertanyaan kontroversial. Sejumlah kritikus berpendapat, persaingan dalam
industri pornografi meningkatkan dominasi dan pelecehan terhadap perempuan --
terutama untuk film yang ditujukan untuk pria bukan penyuka sesama jenis.
"Para pembuat pornografi selalu merasa perlu untuk membuat sesuatu yang
baru, yang menarik," kata Chyng Sun, profesor telaah media pada New York
University. Dengan menganalisis film porno laris, Sun telah menemukan bahwa
agresi fisik dan verbal hadir di 90 persen dari mainstream adegan porno.
Buku-buku komik porno yang dikenal sebagai kitab suci Tijuana mulai
muncul di AS pada tahun 1920-an.
Pada
paruhan kedua abad ke-20, pornografi di Amerika Serikat
berkembang dari apa yang disebut "majalah pria" seperti Playboy
dan Modern Man pada 1950-an.
Majalah-majalah ini menampilkan perempuan yang telanjang atau setengah
telanjang perempuan, kadang-kadang seolah-olah sedang melakukan masturbasi,
meskipun alat kelamin mereka ataupun bagian-bagiannya tidak benar-benar
diperlihatkan. Namun pada akhir 1960-an, majalah-majalah ini, yang pada masa itu juga termasuk
majalah Penthouse, mulai
menampilkan gambar-gambar yang lebih eksplisit, dan pada akhirnya pada 1990-an,
menampilkan penetrasi seksual, lesbianisme dan homoseksualitas,
seks kelompok, masturbasi,
dan fetishes.
Film-film porno juga
hampir sama usianya dengan media itu sendiri. Menurut buku Patrick Robertson, Film
Facts, "film porno yang paling awal, yang dapat diketahui tanggal
pembuatannya adalah A L'Ecu d'Or ou la bonne auberge", yang dibuat
di Prancis
pada 1908.
Jalan ceritanya menggambarkan seorang tentara yang kelelahan yang menjalin
hubungan dengan seorang perempuan pelayan di sebuah penginapan. El Satario
dari Argentina mungkin malah lebih tua lagi. Film ini kemungkinan dibuat antara
1907 dan 1912. Robertson mencatat bahwa "film-film porno tertua yang masih
ada tersimpan dalam Kinsey Collection di
Amerika. Sebuah film menunjukkan bagaimana konvensi-konvensi porno mula-mula
ditetapkan. Film Jerman Am Abend (sekitar 1910) adalah, demikian tulis
Robertson, "sebuah film pendek sepuluh menit yang dimulai dengan seorang
perempuan yang memuaskan dirinya sendiri di kamarnya dan kemudian beralih dengan
menampilkan dirinya sedang berhubungan seks dengan seorang laki-laki, melakukan
fellatio
dan penetrasi
anal." (Robertson, hlm. 66)
Banyak
film porno seperti itu yang dibuat dalam dasawarsa-dasawarsa berikutnya, namun
karena sifat pembuatannya dan distribusinya yang biasanya sembunyi-sembunyi,
keterangan dari film-film seperti itu seringkali sulit diperoleh.
Mona (juga dikenal sebagai Mona the Virgin Nymph), sebuah
film 59-menit 1970
umumnya diakui sebagai film porno pertama yang eksplisit dan mempunyai plot,
yang diedarkan di bioskop-bioskop di AS. Film ini dibintangi oleh Bill Osco dan Howard Ziehm, yang
kemudian membuat film porno berat (atau ringan, tergantung versi yang
diedarkan), dengan anggaran yang relatif tinggi, yaitu film Flesh Gordon.
Film
tahun 1971 The Boys in the Sand
dapat disebutkan sebagai yang "pertama" dalam sejumlah hal yang
menyangkut pornografi. Film ini umumnya dianggap sebagai film pertama yang
menggambarkan adegan porno homoseksual. Film ini juga merupakan film porno
pertama yang mencantumkan nama-nama pemain dan krunya di layar (meskipun
umumnya menggunakan nama samaran). Ini juga film porno pertama yang membuat
parodi terhadap judul film biasa (judul film ini The Boys in the Band).
Dan ini adalah film porno kelas X pertama yang
dibuat tinjauannya oleh New York Times.
0 komentar:
Posting Komentar